Ayah, Maafkan Aku

Kemarin (Kamis, 23/7/15) saya bersama putera pertama saya Muhammad Hilmy berkunjung ke salah seorang kenalan ayah kami. Beliau tinggal tidak terlalu jauh dari tempat ayah kami berjualan di pasar Sukabumi. Beliau bukan saudara kandung kami, tapi anehnya sudah seperti saudara kandung. Itu yang kami rasakan. Bahkan hampir setiap tahun beliau selalu menyapa kami, berkunjung ke rumah Ibu dan saling memberi hadiah. Beliau sudah menganggap ayah kami sebagai ayah beliau juga. Padahal awal kenalnya di pasar. Beliau salah seorang pelanggan ayah saat dulu berjualan sayuran di pasar. Subhanallah, tali persaudaraan iman yang ayah ikatkan dan ajarkan kepada kami sangat berkesan. Hal serupa bukan satu atau dua orang, tapi banyak kisah seperti ini yang ayah tinggalkan kepada kami.

Sore itu kami ngobrol ke sana ke mari. Menceritakan keseharian saya, pekerjaan saya mengisi training dan tausiyah di perkantoran. Beliau juga menceritakan pekerjaannya berjualan dan sebagai pelayan di sebuah apotek. Ada hal yang membuat saya haru bahkan menitikan air mata ketika beliau bercerita tentang almarhum ayah saya. Beliau mengenang saat-saat ayah masih berjualan dan detik saat ayah saya terbaring di rumah sakit bahkan beliau juga hadir di pemakaman ayah saya. Beliau menceritakan bahwa ketika berjualan selalu saja almarhum ayah saya menyebut nama “si bungsu”. Bahwa jualan, bekerja ayah demi si bungsu. Si bungsu harus sukses dibandingkan kakak-kakaknya yang lain. Siapa si bungsu itu? Saya sendiri. Saya hanya bisa tertunduk, sedih, haru bercampur menjadi satu.

Tidak berhenti sampai di situ, saudara jauh kami ini juga bercerita saat ayah terbaring di Rumah Sakit. Ayah selalu bilang kepada beliau bahwa sebentar lagi si bungsu akan diwisuda. Sebentar lagi ayah akan menghadiri wisuda si bungsu. MasyaaAllah, Allah takdirkan lain. Empat puluh hari menjelang saya disiwuda, ayah meninggal dunia. Ya Allah, hati semakin pecah tangis diceritakan kembali kisah ini.

=======

Ayah, sekarang si bungsu sudah wisuda, tepat empat puluh hari setelah ayah meninggalkan kami semua di tahun 2008 dulu. Maafkan aku ayah, aku hanya ditemani Ibu dan Aa (kakak). Fotonya pun hanya bersama Ibu. Tapi aku bangga. Aku bisa kuliah semua karena perjuangan dan pengorbanan Ayah. Meski ayah tak sempat menyaksikan wisudaku, ayah pasti senang, si bungsu bisa lulus kuliah dengan nilai yang tidak mengecewakan. Maafkan aku ayah, karena aku saat itu memilih telat lulus. Padahal aku seharusnya bisa lulus lebih cepat. Tapi, itu sudah terjadi. Aku salah ayah. Maafkan aku.

Ayah, sekarang si bungsu juga sudah punya dua buah hati. Hilmy sekarang sudah punya adik perempuan, Aqila yang usianya sudah masuk 6 tahun. Bahkan, sekarang sedang menunggu kelahiran buah hati yang ketiga. Mereka pasti senang saat berjumpa denganmu ayah. Bahkan saat kami berziarah ke quburmu, Hilmy dan Aqila selalu mendoakanmu ayah.

Ayah, sekarang si bungsu sudah punya rumah dan kendaraan sendiri. Alhamdulillah. Andai ayah masih ada, ayah pasti akan datang untuk membantu membangung rumah, memasang tempok atau membawa bambu dan kayu. Dulu saat membangun rumah, Ibu datang ayah. Ibu menangis. Saat aku tanya, ibu hanya jawab, “Kalau saja ayah masih ada, pasti ayah bantu bangun ini rumah.” Maafkan aku ayah, saat ayah masih ada aku belum bisa memberikan banyak senyuman.

Ayah, maafkan aku, si bungsu yang dulu sering ayah sebutkan, belum bisa memberikan banyak hal kepada ayah, ibu dan keluarga. Ayah, doakan aku semoga aku bisa membanggakan ayah, membanggakan keluarga dan membanggakan Allah dan RasulNya. Ayah, doa kami selalu menyertai, semoga Ayah juga Allah muliakan kedudukannya, lapangkan quburnya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah. Aku bangga punya ayah sepertimu. Maafkan aku bila selama ini belum banyak yang diberikan kepada ayah. Semoga kita bisa bersua dan berkumpul di surga kelak. Aamiin.

Sepenuh cinta, Anakmu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × four =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top