Belajar dari Tutupnya Ford Motor Indonesia

Dua hari ini jagat berita diramaikan dengan kabar tutupnya Ford Motor Indonesia. Seperti yang dinyatakan oleh Managing Director Ford Motor Indonesia, Bagus Susanto, dalam situs resminya menyatakan: “Kami telah mengumumkan keputusan bisnis yang sulit untuk mundur dari seluruh operasi kami di Indonesia pada paruh kedua tahun ini. Hal ini termasuk menutup dealership Ford dan menghentikan penjualan dan impor resmi semua kendaraan Ford.”

Kok bisa perusahaan sebesar Ford bisa tutup di tempat yang justru banyak perusahaan lain masuk? Bagaimana bisa disaat perusahaan lain bertarung dan bersaing di Indonesia, Ford malah resmi ditutup? Seperti diberitakan Liputan6.com, menurut juru bicara Ford Asia Pasifik, sebagaimana dikutip Reuters, alasan dibalik penghentian operasi ini adalah karena dua faktor: minimnya penjualan dan tak adanya pabrik perakitan.

Apa pelajarannya buat kita? Pertama, bisnis bertumpu pada beberapa kaki, salah satunya penjualan dan efektivitas produksi. Dua hal ini yang dialami Ford sampai akhirnya ditutup. Ternyata baik bisnis maupun pribadi dua hal ini sangat penting. Bagaimana kita bisa ‘menjual’ diri kita berupa jasa dan kemampuan kita kepada orang lain sehingga orang lain mau membayar kita. Termasuk bagaimana agar proses produksi (jasa) yang kita punya efektif dan efisien dari sisi proses dan kualitasnya sehingga berkualitas dan menguntungkan. Jika kedua kaki ini tidak kita punya, maka tidak menutup kemungkinan setahun atau dua tahun ke depan kita akan ‘tutup’.

Kedua, hidup itu harus terus bertumbuh. Pelajaran dari tutupnya Ford Motor Indonesia tentu menjadi dorongan buat kita bahwa kita harus terus bertumbuh, berubah jadi lebih baik. Perusahaan sebesar FMI aja bisa tutup, padahal kita tahu bagaimana besar sumber daya Ford. Bagaimana dengan kita? Kalau kita juga tak berubah kita akan punah.

Ketiga, peluang belum tentu mendatangkan berkah. Ya, peluang tak selamanya mendatangkan kebaikan dan keberkahan dalam hidup kita. Pelung tak selalu menjadikan kita meraih keberhasilan. Penyebabnya bukan peluangnya, tapi kita yang mengambil dan menikmati peluang. Peluang bisa mendatangkan kebaikan, bisa juga sebaliknya. Semua bergantung pada kesiapan kita dalam mengambil peluang. Sekarang, bagaimana setiap peluang datang diri kita juga memastikan kesiapan diri kita menjalaninya. Kalau tidak, peluang hanya akan mendatangkan bencana.

Semoga kita terus bisa bertumbuh dan berubah menjadi pribadi yang memiliki performa. Sehingga hidup kita lebih sukses, bahagia dan mulia karenanya. Kita belajar dari Ford Motor Indonesia, jangan sampai hidup kita juga ‘tutup’ karena tak siap. Setuju?

Let’s Change!

Asep Supriatna
Life Performance Trainer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 5 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top