Berapa Nilai Diri Kita?

Tiga tahun yang lalu, tahun 2012, saya berkesempatan menjadi MC sebuah acara forum pengusaha yang dikemas dengan konsep yang memadukan edukasi dan multimedia. Salah satu hal penting yang menunjang keberhasilan acara tersebut, dengan konsep seperti multimedia, adalah kualitas sound system. Sebagus apa pun konsep acaranya, pengisinya, konten dan delivery para pengisinya, bila sound systemnya tidak mendukung, saya kira pesan acara akan kurang maksimal.

Saat itu, ruangan akustiknya kurang bagus. Ruangannya menggema. Sehingga sound system yang kami sewa harus bisa mengatasi hal tersebut. Dicarilah vendor yang sanggup menyelesaikan tantangan ruangan. Alhamdulillah, saat acara berlangsung, sound system bekerja baik. Gema ruangan hilang. Berapa harta sewa sound systemnya? Hmmm… lumayan, puluhan juta rupiah. Tak rugi kita sewa mahal, karena kualitas sound-nya sangat memuaskan. Benarlah, ada nilai, ada harga. Semakin bernilai, semakin memiliki harga.

Saya dapati harga sewa sound itu sangat beragam. Mulai dari ratusan ribu, jutaan, puluhan juta sampai ratusan juga juga ada. Harga mereka tergantung kualitas dan kecanggihan perlengkapan mereka. Semakin berkualitas, harga makin tinggi.

Bagaimana dengan nilai hidup kita? Bagaimana mengukur nilai keberadaan kita di dunia? Empat abad yang lalu, Rasulullah Saw memberi kita gambaran akan nilai adanya kita.

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan.” (HR. Thabrani)

Hadits di atas memberi kita pelajaran bahwa hidup kita harus memberi makna kebaikan bagi orang lain. Keberadaan kita harus bermanfaat dalam kebaikan. Adanya kita membuat banyak orang termudahkan. Saat hadirnya kita, kesulitan orang lain teratasi. Ketika kita ada, kebahagiaan orang di sekitar kita merekah. Itulah nilai dari hidup kita. Manfaat bagi sesama.

Wajarlah Buya Hamka berpesan, “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga kerja.”

Semoga hidup kita tidak sekedar hidup. Kerja kita tak sekedar kerja. Hidup kita, kerja kita, bisnis kita, keberadaan kita bisa memberikan manfaat kebaikan bagi sesama. Adanya kita menebar manfaat bagi sesama. Dan nilai tertinggi kita adalah keta’atan yang kita terbarkan kepada yang lain. Mengajak kepada kebaikan. #YukBerubah jadi pribadi yang lebih bermanfaat sehingga kita bisa menjawab “Berapa Nilai Diri Kita?”

Salam Perubahan!

Asep Supriatna | @AsepFakhri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − six =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top