Berdamai dengan Perubahan

Kejadian aksi mogok masal moda transportasi umum di Jakarta yang terjadi pada hari Senin lalu menyisakan banyak rasa. Bagi warga Jakarta, masyarakat umum, para pekerja tentu hari Senin itu begitu melelahkan, berhubung sulit mencari kendaraan umum untuk ditumpangi. Wajar sih para pelaku bisnis konvensional transportasi geram dan berang, marah dan kecewa. Bagi para pendemo tentu itu adalah luapan protes, penolakan akan hadirnya bisnis transportasi berbasis online. Betapa tidak, omset harian mereka tergerus karena hadirnya bisnis itu. Hmm kondisi yang sedang menampakkan sebuah persaingan.

Saya tidak ingin membahas terkait regulasi ekonomi dan kebijakan pemerintahnya. Tidak. Yang menarik untuk kita cermati adalah bagaimana sikap kita ketika menyaksikan sesuatu yang baru itu hadir di depan kita. Setidaknya ada beberapa pihak dan sikap yang akan terjadi ketika itu:

Pertama, sikap menolak. Tidak terima dengan kondisi yang ada. Mengapa? Karena hal yang baru itu bertentangan dengan apa yang sudah ada. Hal yang baru itu sangat tidak menguntungkan atas apa yang sedang terjadi selama ini. Hal itulah yang terjadi dengan protes kemarin. Ojek konvensional menolak hadirnya ojek online. Taxi konvensional menolak dengan hadirnya taxi online. Karena menolak sikap dan pikiran kita pasti akan berselancar mencari kekurangan dan keburukannya. Bahkan, kita pun akan mencari akibat-akibat buruk hal yang baru itu atas diri kita. Akhirnya, sikap kita, pikiran kita jadi negatif.

Kedua, sikap cuek. Sikap ini tentu berbeda dengan yang pertama. Karena sikap kedua ini tidak mau ambil pusing. Yo wis, dijalani aja. Biarkan aja mereka jalan, kita juga jalan. Kalau kita berhasil ya syukur, kalau mereka yang berhasil ya gimana lagi. Sikap cuek ini tidak menentang juga tidak mendukung. Dibiarkan saja, apa adanya. Apa akibatnya? Ya kita sendiri sudah bisa menebak. Pasti suatu saat nanti kita akan terlibas.

Ketiga, berdamai dengan hal baru. Sikap ketiga ini sikap orang-orang yang senantiasa menikmati perubahan. Ketika perubahan itu sebuah kebaikan, kenapa tidak dia juga ikut dalam perubahan itu. Toh kalau kita ‘keukeuh’ dengan kondisi lama, kita juga yang akan sirna, punah. Pribadi ketika ini akan mencoba untuk mengambil perubahan itu sebabai sebuah bagian dari perjalanan hidupnya. Dia berdamai dengan perubahan itu sendiri. Dia tidak menolak, dia juga tidak ceuk, justru dia menerima perubahan itu. Kalau untuk kebaikan, kenapa tidak! Dalam kasus transportasi online, pihak ketika ini dia bersegera untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Kenapa? Karena dia paham bahwa perubahan itu adalah hal yang niscaya.

Sahabat, betapa banyak hal baru telah terjadi di sekitar kita. Betapa banyak perubahan tengah terjadi di tengah-tengah kita. Perubahan strategi, perubahan cara, perubahan konsep, perubahan media bahkan perubahan ilmu dan skill yang ada. Banyak yang hancur dan tenggelam sebenarnya bukan karena perubahannya, tetapi justru karena dia tak mau menerima perubahan itu. Betapa juga banyak pihak yang punah bukan karena kondisi, tapi karena dia tak mau beradaptasi dengan perubahan kondisi yang ada.

Sahabat perubahan, di pihak manakah saat ini kita berada? Pihak yang menolak, cuek ataukah yang bersiap untuk berdamai dengan perubahan ini? Tentu hasilnya akan berbeda!

Yuk berubah, berdamailah dengan perubahan. In syaa Allah sahabat, Sabtu ini (26/3/16) saya akan sampaikan sharing materi tentang “Berdamai dengan Perubahan” ini pada acara InspiraTraining #YukBerubah di Al-Azhar Convention Hall Palembang pukul 13.00 – 15.00. Free. Untuk informasi dan pendaftaran silakan hubungi 0851 000 98899.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top