Dahsyatnya Istiqomah

Langkah berikutnya setelah kita memutuskan untuk berubah adalah bagaimana agar kita konsisten dalam perubahan tersebut. Tetap kontinyu dalam langkah yang sudah kita susun. Tak tergoda untuk kembali ke kesalahan masa lalu. Tak terbujuk untuk menyerah saat kaki sudah melangkah. Ya, istiqomah dalam perubahan. Tersebab apalah arti perubahan diri ini jika kita tak bisa istiqomah menjalaninya. Hidup menjadi sesaat baik, sesaat buruk. Sekali mulia, selebihnya hina. Kembali lagi ke jurang nestapa.

Istiqomah. Ya, itulah kata yang menjadi “momok” menyeramkan dalam setiap perubahan hidup kita. Banyak orang yang bisa berubah. Meninggalkan segala dosa dan kebiasaan buruk di masa silam. Tapi betapa banyak punya sosok  yang tak kuat berada di jalan perubahan. Sehari, seminggu, masih kuat memikul segala konsekwensi perubahan. Sebulan, setahun, mulailah ujian semakin berat. Tak heran banyak yang menyerah. Kembali.

Sahabat, istiqomah adalah proses, langkah setelah keimanan ada. Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Baginda Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Kemudian Rasulullah Saw menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqâmahlah.’” (HR. Muslim)

Mendapatkan hidayah iman itu sebuah kebaikan, tapi istiqomah setelah keimanan tentu jauh lebih dari kebaikan. Di sanalah teruji iman kita. Di sanalah teruji keyakinan kita. Apakah hanya ikut-ikutan, ataukah karena penuh kesadara. Perubahan pun demikian. Apakah kita berubah karena ikut-ikutan, ataukah kita berubah karena dipenuhi dengan keyakinan? Sungguh, langkah berikutnya akan membuktikan. Bukan di lisan tapi apa yang dipersaksikan. Istiqomah atau tidak kah kita setelahnya.

Istiqomah di jalan perubahan bukanlah langkah yang mudah. Ada ujian sebagaimana para Nabi menjalaninya. Ada cobaan sebagaimana para sahabat mengalaminya saat meninggalkan kejahiliyahan. Bukankah kita juga akan merasakan dan mendapatkannya? Pada saat demikian, keistiqomahan akan menyeruak dalam bayang-bayang diri kita. Istiqomahkah kita?

Allah Swt berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (TQS. al-Baqarah [2]: 214)

Ya sahabat, perubahan perlu keistiqomahan. Dan dahsyarnya istiqomah di dalam perubahan adalah ujiannya. So, saat ada kesulitan saat kita menjalani perubahan, itulah ujiannya. Seorang yang meninggalkan riba, pasti ada ujiannya berupa kekhawatiran dan ketakutan. Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan, pasti ada ujian bisa berupa cibiran atau cemoohan. Apa pun perubahan kebaikan kita, bersiaplah menghadapi ujian.

Dahsyatnya istiqomah yang kedua adalah bahwa istiqomah itu dahsyat pula balasannya. Sesuatu yang berat mengerjakan pasti besar balasannya. Sesuatu yang sulit dituntaskan pasti besar yang akan didapatkan. Begitu pun juga dengan keistiqomahan.

Allah Swt menggambarkan basalan istiqomah dalam sebuah ayat nan mulia, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushshilat [41]: 30)

Ada balasan indah dalam keistiqomahan; tidak akan merasakan takut, tidak akan bersedih hati, dan mendapatkan balasan berupa Surga. Luar biasa, indahnya. Orang yang istiqomah tak akan merasa takut pada hilangnya dunia, karena dia sudah memiliki Allah. Orang yang istiqomah tidak akan merasa bersedih ditinggalkan dunia, karena dia punya Allah.

“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.” (QS. Fushshilat [41]: 6)

Semoga kita bisa istiqomah dalam setiap perbuahan diri kita. Yuk Berubah, yuk istiqomah. Mengapa? Karena istiqomah itu begitu dahsyat. Yuk rasakan dahsyatnya istiqomah.

 

Asep SupriatnaLife Performance Trainer – Inspirator #YukBerubah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − thirteen =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top