Hati-Hati dengan Harta Kita

Suatu ketika saya diberi kesempatan untuk menyampaikan materi training di daerah Sumatera. Kebetulan ada satu sesi dimana panitia mengundang salah bintang tamu untuk menyampaikan pengalamannya terkait praktik abdi negara yang “nakal” (baca: korupsi). Saat saya mengetahui namanya, sepertinya nama tersebut tidak asing di media. Dan benar, beliau adalah salah satu mantan anggota DPR RI. Beliau sampaikan bahwa jabatan yang dia miliki saat menjadi anggota dewan sering mendapatkan “hadiah” baik dari pengusaha, penguasa atau pihak yang berkepentingan. Salah satu ujung dari apa yang dia terima itulah yang menjadikan dia mendekam di penjara beberapa tahun.

Sahabat, terhadap harta (juga keindahan dunia yang lainnya termasuk tahta dan cinta) itu kita harus berhati-hati. Hati-hati saat mendapatkannya, hati-hati juga saat menafkahkan atau menggunakannya. Salah kita menyikapi dan memandangnya, ia bukannya jadi sumber bahagia. Namun ia bisa menimbulkan fitnah.

Allah Swt mengingatkan kita dalam hal ini dengan firmanNya:

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai FITNAH. ~ QS. Al-Anfal: 28

Tapi bila kita mampu mengendalikannya, mampu memenejnya, harta itu bisa menjadi nikmat dan keindahan dunia. Allah Swt menggambarkan hal itu dalam firmanNya:

“Harta dan anak-anak adalah PERHIASAN kehidupan dunia.” ~ (QS. Al-Kahfi: 46)

Oleh karenanya, berhati-hatilah akan kenikmatan berupa harta ini. Kita harus sadar dan yakin betul bahwa harta yang kita dapatkan bersumber dari yang halal. Bahkan terhadap sisi yang syubhat pun kita hindari. Harus dipastikan sumber rejeki itu halal, bukan semata mengejar banyak dan berlimpahnya saja. Tak hanya itu, kita pun harus mewaspadai untuk apa saja kita belanjakan harta kita. Ingat, bahwa harta itu akan ditanya dari mana asalnya, dan ke mana kita membelanjakannya.

Banyak kejadian bagaiman seorang pebisnis demi tendernya lolos dia harus menyuap ini dan itu. Tidak sedikit seorang karyawan demi mendapatkan kelebihan gaji ia berani memberikan laporan pembelian barang dengan nota palsu atau meminta nota kosong dari suplyer. Tak sedikit juga penguasa yang rela menggadaikan imannya demi uang ia berkorupsi. Ujungnya bisa jadi kebahagiaan mendapatkan harta yang melimpah. Tapi setelah itu, kesengsaraan sedang menungguh kita.

Kita pun harus hati-hati ke mana harta kita dinafkahkan. Seberapa banyak kita menafkahkan harta di jalan kebaikan. Atau justru sebaliknya, banyak pula yang kita nafkahkan di jalan kemaksiatan. Lihatlah orang yang pergi ke diskotik, mabuk, pesta wanita, berzina dan sejenisnya. Ia nafkahkan harta (rejeki) yang Allah berikan kepada mereka di jalan kemaksiatan. Lalu, bagaimana pertangung jawaban kita di hadapan Allah kelak?

Semoga kita bisa berhati-hati dengan harta. Pastikan harta yang ada menjadikan kita lebih depat dengan Sang Pencipta.

Suatu ketika Ibnu Qayyim pernah ditanya, “Ketika Allah memberikan rejeki atas seorang manusia, bagaimana ia mengetahui bahwa rejeki itu adalah sebuah fitnah (musibah) atau sebuah nikmat (berkah)?” Beliau menjawab, “Jika rejeki itu mendekatkannya kepada Allah, maka rejeki itu sebuah berkah. Dan jika rejeki itu menjauhkannya dari Allah, maka rejeki itu adalah musibah.” Sungguh indah dan dalam jawaban Ibnu Qayyim ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 14 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top