Ini Alasan Saya Jadi Trainer

Apapun profesi kita di dunia selama itu halal pasti bisa menjadi jalan datangnya kemuliaan. Ada yang dimuliakan dengan berbisnis atau berdagang. Ada juga yang dimuliakan dengan menjadi pekerja atau berkarir. Semua sama saja di hadapan Sang Pencipta, selama yang dilakukan halal dengan cara yang halal pula.

Lalu, kenapa kang Asep memilih jadi trainer? Sebelum terjun di dunia trainer saya juga pernah berbisnis (sampai sekarang juga masih berjalan), pernah juga bekerja di tempat orang (berkarir), bahkan pernah juga mengalami nganggur (hehehe). Akhirnya, setelah melakukan perenungan mendalam, dalam dua tahun terakhir ini, saya memutuskan untuk terjun di dunia trainer.

Bagi saya, jadi trainer itu mengasyikan. Selain karena memang itu passion saya, jadi trainer juga tentu bisa menjadi sumber penghasilan. Tapi, lebih dari itu, jadi trainer bagi saya adalah sebuah panggilan jiwa untuk berbagi pengalaman dan ilmu yang ada.

Itulah hal utama yang mendorong saya untuk berkarir di dunia training ini. Saya ingin sekali berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi perjalanan agar semakin banyak orang yang tidak mengikuti kesalahan saya dalam hidup. Saya ingin orang lain jauh lebih sukses, lebih baik dan lebih bermanfaat dari saya. Saya berharap semakin banyak orang yang menyadari bahwa dirinya harus segera berubah menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih mulia. Semakin banyak orang yang merasakan hal itu, semakin besar kebahagiaan dalam diri saya. Benarlah, ini memang jalan hidup saya.

Bukankah Rasululullah Saw. pun pernah bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim)

Setelah dipikir-pikir, sedekah harta mungkin masih sangat terbatas. Tidaklah seberapa. Mendambakan doa anak yang sholih, itu pun masih proses. Anak-anak masih kecil. Hanya bisa berupaya dan berharap semoga mereka bisa jadi anak-anak yang sholih yang mendoakan kelak nanti. Tapi, ilmu yang dimanfaatkan, itu bisa lebih dini disiapkan. Semoga saja ketika banyak berbagi ilmu, banyak juga pahala yang mengalir setelah diri ini meninggal nanti.

Lebih dari itu, Imam Malik pernah berkata, “Sesungguhnya Allah membagi (pahala) amal, seperti membagi rizki. Kadang ada yang dapat di waktu shalat, tetapi tidak di waktu puasa. Ada yang lain lagi dapat di waktu sedekah, tetapi tidak di waktu puasa. Yang lain lagi dapat di waktu jihad. Menyebarkan ilmu adalah bagian dari aktivitas kebaikan yang paling utama. Aku pun rela mendapatkan (bagian pahalaku) di sana. Aku kira apa yang aku dapat, beda dengan apa yang Anda dapat. Saya berharap, masing-masing kita sama-sama dalam kebaikan.”

Semoga saja semakin banyak lisan ini menyampaikan kebaikan dan melisankan ajakan untuk terus berubah melakukan kebaikan. Yang pada saatnya nanti, itu akan menjadi penolong disaat tidak ada penolong selain kuasaNya.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga ada yang berminat terjun di dunia training seperti saya? Semoga apapun yang Anda lakukan hari ini bisa menjadi tabukan kebaikan untuk perjalanan panjang kita nanti. Yuk berbagi… #YukBerubah…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 1 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top