Jemputlah Jodohmu!

Jodoh itu harus dijemput. Titik. Ih, serem banget yah. Nggak kok, memang benar. Jodoh itu harus dijemput. Karena selama ada di luar sana, ia selalu jadi rahasia. Tak pernah tahu siapa dan tak pernah tahu kapan datangnya. Sampai kemudian kita jemput, lalu ia pun hadir di depan kita.

Saya masih ingat betul ketika tahun 2004. Saat itu saya masih kuliah di IPB semester 5 kalau tidak salah. Masih melekat juga dalam ingatan bagaimana rasa yang berkecamuk tentang masalah perjodohan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk melamar. Bukan teman seangkatan yang saya lamar saat itu. Bukan pula adik kelas. Yang saya lamar adalah kakak kelas, satu tahun di atas saya. Dan, subhanallah, lamaran saya DITOLAK. Apakah sedih? Yes, saat itu sedih banget. Siapa sih orangnya yang nggak sedih kalau lamaran khitbahannya ditolak. Apakah saya galau? Tidak, karena saat itu belum ada istilah galau. Hehehe.

Kejadian itu memberi saya pelajaran. Pertama, saya jadi tahu, oh ternyata mungkin beliau (yang menolak lamaran saya itu) memang bukan jodoh saya. Kalau saja saya tidak memberanikan untuk melamarnya, entah sampai kapan saya tersadar bahwa dia bukan jodoh saya. Kedua, saat ditolak, saya jadi bergumam panjang. Mungkin saat itu saya belum layak jadi suami, sehingga Allah belum menginjinkan saya untuk menikah.

Sahabat pecinta dan penikmat perubahan, kita harus berani mengambil keputusan. Termasuk dalam masalah perjodohan. Bagi Anda kaum Adam, cobalah untuk memantaskan diri. Lengkapi hidupmu dengan ilmu dan kebijaksanaan. Tingkatkan kedewasaan dalam hidup. Sehingga suatu saat nanti Allah akan menilai dirimu layak menjadi seorang suami dan ayah. Jangan luapkan cinta yang suci itu dengan hal yang diharamkan, seperti pacaran. Kalau belum siap nikah, ya bukan dengan pacaran dong. Siapkan dulu mental dan bekalnya. Lalu segeralah melamar dan menikah. Itu baru lelaki. Buktikan keberanian dan kedewasaan dirimu dengan pilihan yang berani dan juga dewasa. Bukan dengan mencederai cinta dengan pacaraan dan perzinahan.

Bagi Anda kaum Hawa, juga sama, muliakan dirimu dengan menjaga kehormatanmu. Siapkan pribadi terbaikmu untuk menjadi seorang Istri dan Ibu bagi anak-anakmu kelak. Siapkan bekal yang cukup untuk menjadi pengatur rumah tangga dan pecinta yang utuh untuk suamimu kelak. Tak perlu banyak pertimbangan dan standar pasangan. Kalau dia itu shalih dan menarik hatimu, kenapa masih mencari yang lebih sempurna darinya? Tidak akan ketemu. Bisa jadi Anda akan menyesal ketika orang yang datang kepada Anda ternyata sudah menikah dengan orang lain. Sakitnya tuh panjaang dan laammmaa… Hehehe.

Saya kan perempuan, bagaimana caranya menjemput jodoh saya? Ya, kalau Anda sudah siap dan cukup bekal (ilmu dan mental) kenapa tidak Anda mengajukan diri? Bukankah itu yang dilakukan Khadijah kepada Rasulullah Saw? Bukan sebuah kehinaan ketika Anda mengajukan diri demi sebuah kebaikan dan keta’atan.

Terlebih bagi kaum lelaki. Buktikan keberanianmu itu. Jangan banyak pertimbangan materi ini itu. Terlalu lebay dan laaammma tuh. Kalau dirasa sudah siap, jalani aja. Allah yang akan menjamin rizki kita. Tak perlu khawatir. Kalau ternyata perempuan yang Anda datangi tidak siap dengan kondisi Anda, menolak Anda, berarti itu bukan jodoh Anda. Anda tidak perlu frustasi. Anda cukup naik saja pohon kelapa. Setelah sampai puncak pohon, lihatlah ke bawah, sekitar Anda. Masih banyak wanita yang lain yang insyaa Allah siap menerima Anda. Cieee…

So, beranikan saja dirimu untuk menjemput jodoh yang masih rahasia itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − fourteen =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top