Jujurlah Dengan Kemampuanmu!

Mulai hari ini hingga tiga hari mendatang adek-adek kita yang SMA/SMK sedang menghadai Ujian Nasional (UN). Mereka berjuang untuk mendapatkan gelar paling dinanti mereka, kelulusan. Jika mereka bisa lulus UN, itu tandanya 60% kelulusan sudah di tangan, sisanya 40% dari penilaian sekolah. Tak hanya siswa yang akan menjalani ujian, guru, sekolah bahkan orang tua pun turut harap-harapa cemas menanti hasilnya nanti. Lulus atau tidak, nilainya bagus atau tidak.

Lulus UN memang tidak jadi jaminan seseorang berhasil atau tidak di masa depan. Tapi lulus UN tentu menjadi satu bentuk kesuksesan tersendiri dalam menjalani pembelajaran di sekolah. Maka tak mengherankan banyak siswa dan pihak sekolah yang berjuang mati-matian untuk kelulusan UN ini. Ada yang mempersiapkan dengan begitu baik, melatih siswa/siswa dengan berbagai soal dan latihan. Namun, ada juga yang membantu mereka dengan cara yang curang, dengan bocoran soal dan jawaban soal. Cara yang kedua ini adalah jalan pintas di tengah kekhawatiran akan ketidaklulusan.

Perlu diingat, bisa jadi dengan cara curang nilai UN siswa/siswa jadi bagus. Tapi itu tentu tidak mencerminkan fakta sebenarnya dari kemampuan mereka. Bisa jadi nilainya bagus dengan bocoran (nyontek), tapi itu tak mewakili kemampuan yang ada. Bukankah itu justru pembodohan yang sangat berbahaya? Siswa diajak untuk tidak jujur dalam mengerjakan soal. Lebih jauh lagi, siswa diajarkan untuk tidak jujur juga mengukur kemampuan sendiri. Di kehidupan yang akan datang, mereka yang mencontek tak akan pernah PD dengan kemampuannya yang ada. Karena dari kecil sudah dilatih untuk membohongi kemampuannya sendiri.

Dalam keseharian hal serupa juga sering terjadi. Kita melakukan pembohongan terhadap orang lain yang sejatinya kita membohongi diri kita sendiri. Sebenarnya kita tak memiliki kemampuan, tapi dengan pembohongan itu, orang lain menganggap kita punya kemampuan. Padahal, nyatanya tidak. Kita ingin dianggap mampu dan bisa. Kita ingin dikira punya prestasi ini dan itu. Karena pada kenyataanya tidak, maka dilakukanlah yang namanya pembohongan. Baik itu dengan kata-kata sendiri maupun meminjam perkataan orang lain.

Para pebisnis banyak juga yang melakukan ini. Pembohongan terhadap konsumen. Ngakunya barangnya bagus, padahal nyatanya tidak. Maka, dibuatlah iklan secantik mungkin untuk menutupi kekurangannya. Berbohong demi lakunya barang yang dipunya.

Beberapa hari yang lalu pada Pemilu juga demikian. Para calon anggota legislatif yang akan dipilih melakukan berbagai cara agar bisa dipilih. Mereka yang kemampuannya pas-pasan tentu yang disampaikan kepada masyarakat bukankah ide dan program kerjanya, tapi hanya janji-janji manis plus beberapa bantuan agar dinilai peduli. Padahal, pada faktanya mereka banyak juga yang kemampuannya perlu dipertanyakan.

Membohongi diri sendiri apalagi orang lain itu berbahaya. Termasuk membohongi kemampuan kita sendiri. Jujurlah akan kemampuan kita. Kalau kita bisa, bilang bisa. Kalau kita tak bisa, tak ada salahnya bilang saja tak bisa. Tak perlu berbohong. Kalau kita mampu, bilang mampu. Kalau kita tak mampu, sampaikan saja kalau perlu waktu untuk belajar dulu agar mampu. Jujur akan kemampuan yang kita punya tak akan menghinakan. Justru berbohong, mengaku bisa padahal tidak, suatu hari nanti orang lain akan tahu kalau ktia tak mampu. Yuk berubah, jujurlah dengan kemampuan sendiri. Tak usah ragu untuk jujur. Karena kejujuran adalah kunci kebaikan di masa depan. Biarkan orang lain menilai kita tak bisa hari ini, dari pada menilai bisa tapi berbohong. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 1 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top