Kalah Untuk Berbenah

Hari Rabu kemarin saya diminta untuk menjadi salah satu juri dalam lomba pidato ilmiah bidang kesehatan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional Kota Bogor. Lomba yang diikuti oleh sejumlah insan kesehatan dari berbagai lembaga kesehatan Kota Bogor itu menyisakan tiga pemenang, juara satu, dua dan tiga. Dari tiga pemenang ini, satu merupakan staf pengajar sebuah lembaga pendidikan bidang kesehatan. Satu lagi merupakan staf sebuah rumah sakit swasta ternama. Dan terakhir merupakan mahasiswi sebuah lembaga pendidikan kesehatan.

Dalam sebuah perlombaan sudah pasti ada yang menang dan ada yang kalah. So, menang dan kalah dalam sebuah perlombaan itu menjadi hal yang biasa. Yang menang tak perlu jumawa bahwa dirinya saja yang paling hebat, karena bisa jadi kemenangannya hari itu adalah yang terakhir. Yang kalah juga tak perlu berkecil hati bahwa dengan kekalahannya itu lantas berakhirlah harapan dalam kehidupan ini. Karena justru dengan kalah bisa menjadi kesempatan kita untuk berbenah. Semua harus mengambil pelajarannya.

Hidup adalah layaknya perlombaan. Allah memberi jatah kesempatan yang sama berupa waktu. Tidak hanya itu, Allah juga memberi banyak hal berupa ujian, masalah, tantangan dan segala hal yang dengan itu semua ada yang lolos berhasil namun tidak sedikit juga yang gagal.

Sosok-sosok yang berhasil menghadapi berbagai tantangan kehidupan, itulah para pemenang kehidupan. Mereka telah dengan gagah menunjukkan bahwa dirinya sukses melalui ujian kehidupan. Lulus dengan predikat yang berbeda-beda. Namun, sosok-sosok yang gagal dalam menghadapi masalah, tidak usai menuntaskan persoalan hidup, bukan berarti dia sepenuhnya gagal. Bukan berarti juga ia tak mampu menghadapi persoalan kehidupan. Minimal ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran.

Pertama, saat kita gagal bisa jadi itulah cara Allah untuk menunjukkan kadar kualitas diri kita yang sebenarnya. Seperti itulah kemampuan kita saat ini, kemampuan kita, ilmu kita, kualitas ikhtiar kita dan sejenisnya. Maka, dengan kegagalan tersebut kita jadi tersadar bahwa diri kita masih banyak kurang dan lemahnya. Lalu kita jadi belajar ini dan itu. Kita jadi tahu apa yang harus kita perbaiki dan tambahkan. Kita jadi nggeh bahwa kita perlu berlatih dalam hal ini dan itu.

Kedua, saat kita gagal bisa jadi itulah cara Allah untuk menguji sejauh mana kesabaran kita dalam berusaha. Kalau kita satu kali berusaha lantas berhasil. Satu ikhtiar lalu berhasil. Satu kali mencoba lalu berhasil. Bagaimana kita berlatih untuk sabar? Nah, gagal yang kita dapatkan bisa jadi sarana kita melatih hati dalam hal kesabaran. Bukankah dengan kesabaran itu akan dinaikkan derajat hidup kita di sisi Allah Swt?

Ketiga, saat kita gagal bisa jadi itulah cara Allah untuk menunjukkan bahwa ada hal lain yang sedang Allah persiapkan. Misalnya kita gagal (tidak berhasil) menjadi juara pada lomba pidato, bisa jadi itulah cara Allah untuk mengarahkan bahwa kita akan menang di lomba karya ilmiahnya. Karena setiap kita tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang tidak mugkin sama. Saat kita tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di suatu tempat, kenapa kita tidak mencoba mengalihkan pikiran ini dengan berbaik sangka bahwa bisa jadi Allah sedang mengalihkan agar kita bisa bekerja di tempat lain yang lebih baik.

Sekali lagi, kalah dalam sebuah pertandingan itu biasa. Kalah dalam kehidupan juga biasa. Gagal, tidak berhasil. Yang menjadikan kita hebat bukan menang atau kalahnya. Tapi apa yang kita lakukan setelah prosesi pengumunan pemenang itu. Apakah ketika kalah kita memutuskan menyerah? Ataukah sebaliknya dengan kalah kita jadi lebih giat untuk berbenah. Semua tergantung pilihan Anda, Anda mau yang mana? Saya yakin Anda pasti memilih untuk terus berbenah. Yuk berubah!

 

Asep Supriatna, Life Performance Trainer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × one =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top