Membalas Keburukan

Siapa sih orangnya yang tidak sakit hati kalau ada yang menghina. Motivasi bisa menjadi hilang gara-gara orang yang menghina. Siapa sih orangnya yang tidak marah kalau dicaci di muka umum. Sudah menjadi kodrat manusia, kita diberi “nafsu” yang berupa perwujudan dari naluri mempertahankan diri untuk merespon segala hal yang bersarang pada diri kita. Wajar dan alami.

Lalu apa yang harus kita lakukan saat ada orang yang mencari, menghina dan mencibir kita?

Pertama, yakinlah bahwa tidak ada satu pun kejadian yang luput dari perhatian dan scenario Sang Pencipta. Dan scenario Allah Swt itu selalu yang terbaik untuk kita, meski berwujud kepedihan dalam pandangan kita. Lihatlah lebih dalam, kenapa dia yang menghina kita, kenapa pada saat itu kita dihinanya, kenapa di tempat itu kita dihinanya. Semua bukan tanpa maksud. Allah Swt pasti ada maksud memberikan kejadian itu pada kita. Kita tinggal mengambil pesan positifnya. Bisa jadi kenapa Allah berikan itu, saat itu, karena Allah Swt sedang memberi kita predikat kemuliaan kepada kita. Pada saat yang tepat itulah Allah beri penilainya. Cacian dan cibiran itu jadi kunci pembuka kemuliaan kita.

Kedua, saat ada “keburukan” kita alami baik dalam bentuk kegagalan ataukah hinaan dari orang lain, menjadi satu cara yang sedang Allah persiapkan untuk kita segera berubah. Karena jika ada keburukan yang kita terima pasti ada titik keburukan yang pernah kita lakukan. Dengan kata lain, jika ada keburukan hal yang harus dilakukan bukan menyalahkan orang lain, tapi melakukan introspeksi diri kesalahan apa yang dilakukan.

Ketiga, saat kita sudah mengenali “noda” kesalahan yang kita lakukan, langkah berikutnya adalah segeralah mengambil tindakan untuk memperbaiki diri. Bisa jadi apa yang kita dapatkan, atau tidak kita dapatkan bukan karena perlakuan dari orang lain, tapi dari kesalahan kita. Maka, lakukanlah perubahan diri secepat mungkin, sedini mungkin.

Tiga langkah di atas semoga menjadikan apapun yang terjadi pada diri kita tidak lantas mengecilkan semangat kita untuk melangkah. Tidak juga menjadikan sebab kita menyalahkan pihak lain dan kondisi di sekitar. Apalagi jika sampai menyalahkan Sang Pencipta. “Keburukan” yang kita dapatkan atau kita terima bisa menjadi jalan untuk memuliakan diri, bukan menghinakan. Kegagalan yang kita alami bukan mematahkan semangat, tapi jadi pemicu semangat baru untuk melakukan perubahan dan perbaikan diri.

Yuk berubah, let’s change your life, teruslah melangkah hingga kita mendapatkan apa yang kita ciptakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − sixteen =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top