Mengasah Kepekaan Spiritual

Apakah Anda pernah merasakan kehilangan kekhusukan saat sholat? Apakah Anda juga pernah mengalami sering kelupaan jumlah rakaat ketika shalat? Apakah Anda pernah mengalami saat membaca Al-Quran tapi hati tak merasakan kesyahduan? Apakah Anda pernah mengalami ketika shalat tahajud di malam hari, tapi kedamaian hati tak di dapatkan? Bila kita pernah merasakannya, bisa dipastikan saat kejadian itu kondisi spiritual kita sedang bermasalah. Ada sebuah penyakit yang sedang melanda spiritual kita.

Spiritual (ruhiyyah) itu adalah sebuah kesadaran akan hubungan kita dengan Allah Swt (idrak sillatu billah). Kesadaran inilah yang menjadi penampakan dari keimanan seseorang yang berwujud pada keta’atan. Bisa jadi kondisi spiritual kita menaik, kadang juga menurun. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Saw:

“Iman itu kadang naik, kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian…” (HR. Ibnu Hibban)

Apa sebab penampakan keimanan (spiritual) itu bisa naik dan turun? Rasulullah Saw juga menyampaikan bahwa penampakan keimanan itu bisa naik dengan keta’atan, turun karena kemaksiyatan. Maka ketika banyak maksiyat yang kita lakukan, baik yang kecil apalagi yang besar, kondisi spiritual kian terkikis. Qolbu kita tak lagi merasakan keindahan ibadah kepada Allah. Lama kelamaan bila tak segera terobat, terbersihkan, qolbu kita akan hitam pekat dan spiritual kita kian padam.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang mukmin apabila melakukan suatu dosa terbentuklah bintik hitam di dalam hatinya. Apabila ia bertaubat, kemudian menghentikan dosa-dosanya dan beristighfar bersihlah daripadanya bintik hitam itu. Dan apabila dia terus melakukan dosa bertambahlah bintik hitam pada hatinya sehingga tertutuplah seluruh hatinya, itulah karat yang disebut Allah di dalam kitabnya: “sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan telah menutup hati mereka.” [QS. Al Mutaffifin : 14](HR. Al Baihaqi)

Bisa jadi abainya kita akan suasana qolbu kita diakibatkan karena kesibukan kita beraktivitas dalam keseharian. Sibuk dengan pekerjaan di kantor. Sibuk karena mengurusi bisnis yang kita kelola. Sibuk dengan jadwal training ke mana-mana. Bahkan kesibukan di rumah mengelola rumah tangga. Semua itu bisa jadi melalaikan kita akan suasana spiritual kita. Apalagi dengan seringnya kita mengabaikan dosa-dosa yang dilakukan berulang. Dosa kecil itu bila dilakukan berulang bisa mengkarat dan menghilangkan kepekaan spiritual kita.

Lalu bagaimana mengatasinya? Imam an-Nawawi mengajarkan kita 5 cara mengobati penyakit spiritual itu.

1. Membaca Al-Qur’an dan tadabbur (merenungkannya)

Serinya kita berinteraksi dengan Al-Quran akan menjadi penguat qolbu kita. Tak hanya membacaranya, tapi mentadabburi isi (kandungan)nya, merenungkan pesan-pesannya dan berupaya menjadikannya sebagai petunjuk kehidupan.

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang menjadikan al-Quran ada di depannya, maka ia akan menuntunnya ke surga. Tapi siapa saja yang menjadikan al-Quran di belakangnya, maka ia akan menggiringnya ke neraka.”  (HR. Ibnu Hibban)

2. Rajin mengosongkan perut (gemar berpuasa)

Shaum (puasa) adalah ibadah yang sangat spesial. Tak hanya melatih kesabaran, puasa juga melatih kepekaan spiritual yang sangat tajam. Mulai dari merasakan kesulitan yang dialami saudara kita yang kelaparan, hingga bagaimana ia mendapatkan kebahagiaan dari dua kebahagiaan seorang Muslim. Rasulullah Saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’”  (HR. Bukhari)

3. Mendirikan shalat malam (shalat tahajud)

Orang yang gemar melakukan amalan ini akan mendapatkan kemuliaan dan tempat yang terhormat. Tak hanya itu, dalam shalat malam kondisi spiritual juga akan terasah untuk merenungkan betapa Allah Maha Kuasa atas segalanya. Allah Swt berfirman, ”Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

4. Merendahkan diri di hadapan Allah (do’a & dzikir)

Doa dan dzikir adalah senjatanya orang-orang yang beriman. Berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah Swt dalam kesunyian akan melatih hati kita semakin peka dan teduh. Minta ampunan atas segala dosa dan kesalahan. Kelalaian yang terus berulang dilakukan. Berdzikir di waktu malam, siang, pagi maupun sore menberikan kita energi untuk terus mengasah kepekaan spiritual kita. Termasuk berdzikir mengingat mati akan sangat membantu untuk segera memperbaiki suasa qalbu kita, bahwa semuanya pasti akan berakhir. Dunia hanya sementara dan akhirat adalah keabadian.

5. Bermajelis (bergaul) dengan orang-orang sholeh

Ketahuilah bahwa bagaimana kita menjadi ditentukan dengan siapa kita bergaul dan berteman. Jika seringnya berteman dengan orang-orang berperangai kasar, lama kelamaan perangai kita akan juga terbawa. Bila bergaul dengan orang-orang bijaksana, kebijaksanaan pun lama kelamaan akan terbawa dalam diri kita. Bergaulah dengan orang sholih, agar kita pun terbawa sholih. Rasulullah saw berpesan, “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dengan lima cara di atas semoga kepekaan spiritual kita kian terjaga dan terawat. Bila sudah mulai merasakan kehampaan rasa di qalbu kita, segeralah berubah jangan biarkan ia kian melemah dan berkarat. Semoga Allah menjaga hati-hati kita akan terus istiqomah dalam keta’atan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 5 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top