Semua Hanya Titipan

Jika saya ada jadwal ke Jakarta siang hari, saya jarang bawa kendaraan. Saya lebih sering memilih menggunakan kereta api. Kendaraan saya simpan di stasiun. Lepas ngisi kadang diantar sampai ke Bogor atau kembali naik kereta. Sesampai di stasiun Bogor, saya ambil kendaraan saya, lalu melaju kembali ke rumah. Selain lebih hemat, di kereta juga waktu tempuh Jakarta – Bogor di sore hari jauh labih cepat dibandingkan berkendaraan sendiri dengan jalanan yang macet.

Suatu hari saya titipkan mobil di stasiun. Kaget bukan kepalang, ketika saya ambil mobil ternyata penuh dengan bercak putih cat menempel di kaca juga body mobil. Saya baru menyadari hal itu ketika keesokan harinya saya mencuci mobil di pagi hari. Kesel juga sih. Mahal-mahal saya bayar nitip mobil di stasiun tapi malah mobil jadi kotor.

Saya berencana mau complain ke pihak pengelola parkiran di stasiun Bogor. Wajar dong, toh ini kendaraan saya, saya juga bayar parkir. Sebagai pemilik kendaraan, saya dirugikan oleh pengerjaan area parkir yang sedang melakukan pengecetan tidak hati-hati sehingga mobil saya penuh bintik cat. Ini kan mobil saya, saya titip di stasiun, tapi saat diambil kenapa jadi kotor? Gerutu saya dalam hati.

Hari berikutnya, saat berangkat ke kantor saya merenungkan apa yang telah terjadi pada kendaraan saya di stasiun. Mencari apa hikmahnya. Apa kira-kira pelajarannya untuk hidup saya. Tanpa disengaja, tiba-tiba, dari pemutar MP3 di kendaraan terdengar senandung Bimbo berjudul “Barang Titipan”. Subhanallah, inilah pelejarannya.

Semua hanya titipan. Itulah pelajaran yang saya dapatkan. Kendaraan yang saya titipkan tempo hari di stasiun itu sama dengan apa yang kita punya hari ini. Harta benda yang dipunya, rumah, kendaraan, keluarga, bisnis, karir, semuanya itu titipan dari Sang Pencipta kita. Suatu hari nanti pasti Dia akan mengambilnya. Namanya juga titipan. Hakikatnya kita bukan pemilik, kita hanya pengguna, hak guna, hak mampir dan menyimpannya sejenak saja. Sama seperti kendaraan yang saya titipkan di stasiun. Itu “milik” saya, bukan punya stasiun. Sebagai pemilik suka-suka saya kapan mau diambil. Sebagai pemilik terserah saya mau diambil pagi, siang atau sore, bahkan malam sekalipun. Dan sebagai pengelola parkir, tidak ada hak untuk menghalangi saat saya mau mengambilnya.

Perenungan terus saya lakukan. Ya, semua hanya titipan. Kita sering mengaku dan merasa punya ini dan itu. Karena kita tak menyadari bahwa semua itu hanya titipan, ketika Dia ambil kita marah. Harta kita hilang, kita marah. Anak kita dipanggil Allah, kita marah. Bisnis kita rugi, kita marah. Padahal kalau kita mau sedikit berpikir, yang namanya titipan, bukan punya kita. Pemilik sejati (Allah SWT) punya hak mengambilnya kapan saja. Dan kita harus merelakannya. Namanya juga titipan.

Tak hanya itu, karena kita sebagai pengelola, orang yang diberi amanah titipan, kita tentu punya kewajiban untuk menjaga dan merawatnya. Seperti kendaraan yang saya titipkan ke stasiun. Saat ada kerusakan wajar dong kalau saya complain. Begitu juga dengan hidup kita. Kalau kita tidak merawat semua titipan yang Allah anugerahkan, seperti anak, istri, suami, harta juga usia ini tidak kita rawat, pantaslah kita mendapat murkaNya. Bagaimana kita merawat harta kita, membersihkannya, menjaganya agar tetap bersih dan halal. Anak dan keluarga kita, bagaimana kita rawat dan jaga agar ta’at pada syariatNya. Karir kita, bagaimana agar kita rawat sehingga tidak terjerumus pada yang diharamkan. Hidup kita, bagaimana kita rawat sehingga tetap berkah menjalaninya.

Sudahkah kita menyiapkan diri saat semua yang kita miliki diambil oleh Sang Pemilik sebenarnya? Sudahkah kita merawatnya sehingga Sang Pemilik senang saat mengambilnya? Yuk berubah, menjadi pribadi yang mampu menjaga semua yang Allah anugerahkan. Karena, semua hanya titipan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − four =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top