Split Personality

Pernah mendengar istilah “Split Personality” atau kepribadian ganda? Dalam film-film yang ada adalah agen ganda. Yaitu seseorang yang menjadi agen sebuah negara tetapi menjadi agen juga di negara lain. Sehingga saat dia menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai agen, sulit sekali dibedakan saat itu dia menjadi agen negara A atau B. Nah, kira-kira seperti itu juga dengan istilah “Split Personality“.

Seseorang yang memiliki kepribadian ganda (split personality) sangat sulit untuk dibedakan antara kepribadian A atau B. Misalnya, ada karyawan yang rajin shalat berjamaah ke masjid, bersedekahnya juga sering banget, bahkan puasa sunatnya hampir tidak pernah ketinggalan, tapi sering juga mabuk dan main judi. Nah, orang seperti ini bisa kita katakan memiliki kepribadian ganda. Di satu sisi ada kebaikan, di sisi lain ada keburukan, bergabung dalam satu perilaku.

Kepribadian itu bisa kita nilai dari dua sisi, bagaimana pola pikirnya dan bagaimana pola tingkah lakunya. Dua hal ini bisa kita jadikan unsur untuk menilai seperti apa kepribadian seseorang. Atau kita juga bisa menilai apakah dia memiliki kepribadian ganda ataukah tidak.

Misalnya ada seseorang memiliki pola pikir (termasuk di dalamnya pola sikap) yang Islami, berpikir dan menilai dengan agamanya (Islam), suka dan tidaknya bersadarkan Islam, senang dan tidaknya berdasarkan pemikiran-pemikiran Islami, maka orang tersebut memiliki pola pikir Islami. Jika pola tingkah lakunya dalam hidup juga sesuai dengan Islam, memenuhi hajat hidup dan nalurinya bersadarkan aqidah Islam, maka dia memiliki pola perilaku yang islami. Jika pola pikir dan pola tingkah lakunya ini sama-sama Islami, maka kita bisa sebut orang ini memiliki kepribadian yang islami.

Akan tetapi, jika pola pikirnya islami tapi pola tingkahlakunya tidak islami (misalnya sekuler), maka orang ini tidak memiliki kepribadian yang islami. Begitu juga apalagi pola pikirnya sekuler tapi pola perilakunya islami itu juga sama, bukan kepribadian islami. Nah, dalam kondisi seperti inilah seseorang bisa dikatakan memiliki kepribadian ganda.

Hal ini sangat berbahaya, karena kepribadian orang model ini menjadi tidak jelas. Di satu sisi dia islami, di sisi lain dia tidak islami. Rajin sih shalatnya, tapi mikirnya sekuler banget. Rajin sih puasa sunnahnya, tapi mikirnya liberal banget. Atau sebaliknya, ilmu islaminya banyak, menilai dengan islam, tapi perilakunya bertentangan, yang haram dimakan, maksiat dijalankan. Orang seperti ini munafik namanya.

Lalu bagaimana membentuk kepribadian yang khas dan kuat? Ya dua hal unsur pembentuk kepribadian harus kita kuatkan. Pertama, pola pikir yang Islami. Bisa kita kuatkan dengan memperbanyak belajar Islam, mengkaji Islam, ikut dalam halqah-halqah ilmu. Menguatkan pemikiran kita dengan tsaqofah Islam. Menanamkan aqidah yang kuat sehingga membentuk pemikiran yang islami di dalam diri kita.

Kedua, pola perilaku yang Islami. Hal ini bisa dikuatkan dengan menjadikan hukum Syara sebagai tolok ukur perbuatan kita. Saat kita menjalani hidup, semua berpatokan pada halal-haram, syariat Islam. Sebelum kita melakukan sesuatu, kita pastikan terlebih dahulu apakah hal itu boleh ataukah tidak. Menjadikan syariat Islam sebagai pedoman. Jika hal tersebut wajib, maka sekuat tenaga kita lakukan. Jika hal tersebut sunnah, sekuat tenaga juga kita upayakan. Jika hal tersebut mubah (boleh), kita berhati-hati mengambilnya, pilih-pilih. Jika hal tersebut makruh, sekuat tenaga kita tinggalkan. Dan jika hal tersebut haram, kita campakan.

Pendek kata, agar kita tidak termasuk pribadi yang memiliki kepribadian ganda (split personality), padukanlah pola pikir diri kita dengan pola tingkah laku kita sesuai dengan Islam. Sehingga menjadi pribadi yang khas, memiliki kepribadian yang khas, yaitu kepribadian yang islami.

 

Asep Supriatna, Spiritual & Life Performance Trainer | Inspirator #YukBerubah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 2 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top