Suami Shalih

Tiap orang tentu mendambakan hal yang satu ini. Menikah. Punya pendamping hidup, belahan jiwa yang akan menemani di kala suka dan duka. Tempat kita berbagi canda dan tawa. Sosok yang akan saling melengkapi, karena kita adalah ibarat pakaian baginya dan dia pun adalah ibarat pakaian bagi kita. Meneduhkan di kala terik matahari menyengat, menghangatkan di kala hujan. Namun, tak sedikit dari pasangan suami-istri justru malah tidak menemukan “Sakinah” dalam rumah tangganya. Padahal, disyariatkan pernikahan adalah salah satunya untuk mendapatkan “Sakinah” (ketenangan). Sakinahnya istri dari suami, juga sakinahnya suami dari istri.

Untuk itu, agar keluarga kita sakinah, masing-masing harus menjadi pribadi yang shalih. Suami yang shalih, istri yang shalih dan anak-anak juga yang shalih.

Saya menuliskan tentang suami shalih ini bukan berarti saya sudah baik dan bisa jadi contoh. Tidak. Saya justru menuliskannya untuk mengingatkan diri saya sendiri akan tugas saya sebagai suami bagi istri saya, dan ayah bagi anak-anak saya. Saya masih banyak kurang dan nodanya. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua ya.

Suami shalih itu bukan yang baik rupanya, cakep parasnya, atletis badannya, banyak hartanya. Bukan itu. Shalih itu lebih pada kualitas sikapnya. Shalih itu lebih pada kebaikan pribadinya, bagaimana pola pikirnya dan seperti apa pola sikapnya.

Sepanjang yang saya pelajari dan coba saya lakukan di rumah, suami shalih itu yang adalah:

1. Suami shalih itu, yang terus belajar dan memahami Islam dengan seksama. Ia mempelajari dan memahami Islam nan sempurna lalu dia jadikan sebagai pegangan, standar, tolok ukur dalam membina keluarga. Termasuk bagi suami dalam melakukan fungsi dan tugasnya sebagai suami. Sehingga ketika ada masalah di rumah, ia kembalikan kepada alQuran dan asSunnah. Ini yang paling utama.

2. Suami shalih itu, yang berusaha sekuat tenaga menafkahi istri dan keluarganya dengan nafkah yang halal dan barokah. Bukan standarnya banyak saja, tapi bagaimana memastikan setiap hartanya bersih dari kotoran (haram). Tentu tidak termasuk suami shalih jika dia malas mencari nafkah dan tidak hati-hati mendapatkan nafkah.

“Cukuplah seorang muslim berdosa bila tidak mencurahkan kekuatan (menafkahi) tanggungannya.” (HR. Muslim)

“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap keridloan Allah maka baginya Shedaqah.” (HR. Bukhari)

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya).

3. Suami shalih itu, yang paling baik akhlak dan perilakunya kepada istrinya. Bertutur dengan baik, bersikap dengan baik. Lembut ucapannya, lembut perangainya. Hmm… memang tidak mudah. Tapi in syaa Allah jika kita berusaha, tentu Allah akan memberikan kemudahan. Bagaimana sikap yang lembut kepada istri, Rasulullah Saw bersabda:

“Orang Mukmin yang paling sempurna Imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (HR. Tirmidzi)

“Sebaik-baik kalian adalah kalian yang terbaik terhadap isterinya. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap isteriku.” (HR. Ibnu Majah)

“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (QS. An-Nisaa [4]:19)

Dan masih banyak hadits yang menjelasikan bagaimana sikap lemah lembutnya Rasulullah Saw kepada para istrinya. Ia terkenal begitu penyayang dan perhatian kepada mereka.

4. Suami shalih itu, yang berusaha memberikan perhatian, cinta dan tidak menyusahkan istrinya. Ingat bahwa istri itu bukan parter kerja, ia adalah sahabat suami. Maka, sudah menjadi kewajiban suami untuk membuat hati sang istri bahagia, tentang dan memberikan perlindungan kepadanya. Bahkan, seorang suami pun harus memberikan perhatian lebih kepadanya. Termasuk meringankan beban istrinya.

Allah Swt berfirman, “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS al-Baqarah [2]: 228)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 6)

5. Suami shalih itu, yang terus mengingatkan sang istri jika salah, mendidik istri dengan ajaran Islam dan memberikan contoh bagaimanan menjadi pribadi yang baik. Ingatlah, kualitas keimanan dan ibadah istri juga anak-anak menjadi salah satu tanggung jawab suami. Maka, ketika suami tidak memperhatikan pakaian sang istri, berhijab sempurna atau tidak ketika keluarga rumah, ijin atau tidak ketika bepergian, menjaga shalat dan puasanya, menunaikan ibadah sunnahnya, baca qurannya dan yang lainnya.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thahaa [20]: 132).

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

”Seorang suami adalah pemimpin bagi penghuni rumahnya dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

Masih banyak sifat dan sikap yang harus dimiliki seorang suami ketika membina keluarganya agar menjadi suami yang shalih. Yuk terus berbenah, yuk berubah, menjadi suami yang shalih, agar istri juga jadi istri yang shalih, anak yang shalih dan tentunya keluarga yang shalih. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − seven =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top