Tak Selamanya Kita Benar

Perjalanan semalam dari Sukabumi ke Bogor serasa begitu panjang dan lama. Bukan karena macetnya, karena Alhamdulillah jalanan nggak macet. Tapi karena kepala terasa berat memikirkan pesan dari salah satu tim saya berkaitan dengan evaluasi training yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Tim saya cerita bahwa pihak perusahaan, dalam hal ini ownernya, menyampaikan keluhan dan perasaan keberatannya terkait pelaksanaan training. Dalam pesan yang disampaikan tim saya via pesan whatsapp, sang owner menyampaikan, “Saya sudah menganggarkan dana juga menghentikan aktivitas kantor karena menghargai ilmu dan kehadiran pa Asep. Namun, ada yang miss dalam penyampaiannya yang membuat saya tidak nyaman.”

Deg, seketika saya terdiam. Saya hentikan mobil saya. Saya menepi berhenti sejenak. Berpikir keras apa maksud dari komplain dari salah satu client yang satu ini. Saya tatap wajah istri saya dan bertanya kepada istri saya terkait isi pesan yang baru saja masuk. Saya selalu sampaikan masalah pekerjaan saya kepada istri saya, minta second opinion dari beliau. Beliau hanya terdiam seperti saya. Tidak mengerti apa maksudnya. Akhirnya saya kembali hubungi tim saya untuk meminta penjelasan dan klarifikasi, detailnya seperti apa.

Pesan berikutnya pun masuk, “Training ke karyawan harap difokuskan pada perbaikan kinerja saja. Tidak curhat-curhat atau yang sejenisnya.”

Saya makin panik. Curhat apa gerangan yang dimaksud. Karena seingat saya, materi training sudah saya desain sedemikian rupa agar pas dan bisa memberikan dampak kepada perbaikan kinerja tim client. Saya kembali tanyakan kepada tim saya, tim saya bilang bahwa pihak client merasa materi yang saya sampaikan tidak ada masalah, bagus. Aduh, ini makin galau. Sebagai seorang trainer, ketika client nggak puas dan ada yang tidak pas, saya pasti resah. Alamat bisa tidur nggak nyenyak. Saya belajar dari guru-guru trainer saya, training itu amanah, diundang oleh perusahan itu amanah. Maka ketika ada yang tidak berkenan, itu pasti masalah besar. Saya pun terus memutar memori apa saja yang saya sampaikan saat training waktu itu.

Buntu. Saya masih nggak paham. Gelap. Saya tidak mengerti sisi apa yang client maksudkan. Di waktu yang lain saya pernah dikomplain oleh pihak pengundang gara-gara salah satu pengisi dari team saya kurang perform saat mengisi. Kurang interaksi dengan audien, kurang memasukkan contoh-contoh yang update dengan kondisi karyawan. Itu jelas. Malam tadi sungguh saya nggak habis pikir. Di mana letak salahnya.

Pesan berikutnya disampaikan oleh tim saya. “Betul mas, kontennya aman, tapi penyampaian beliau ada yang diluar wewenang beliau dan hal ini membuat tidak nyaman. Untuk koreksi perusahaan, saya sangat senang jika beliau (maksudnya saya) melakukan pembicaraan langsung dengan saya. Waktu itu, saya jadi merasa beliau tidak menghargai saya.”

Astaghfirullah. Saya langsung beristigfar. Saya kembali mencari memori gerangan apa yang dimaksud. Karena belum ketemu, akhirnya mobil saya pacu kembali yang saat itu masih di perjalanan pulang ke rumah. Sampai rumah, pesan dari tim saya masih terus menghantui. Membuat pikiran ini kalut. Sebelum saya rehat saya sampaikan kepada tim untuk menyampaikan permohonan maaf kepada yang bersangkutan sekaligus ucapan terima kasih atas masukan dan kritiknya.

Lepas shubuh saya merenung kembali. Berpikir keras menemukan titik masalahnya. Alhamdulillah akhirnya ketemu. Ya, tak selamanya kita benar. Saya salah. Saya miss. Saya khilaf. Saat saya menyampaikan training ada beberapa contoh dan pembahasaan yang dugaan saya itu yang membuat client saya tidak puas lalu menyampaikan komplain. Benar, saat itu tidak ada maksud saya untuk menyalahi wewenang dan apalagi sampai tidak menghargai owne. Tapi nyatanya, saya tetap salah, saya salah memberi contoh, saya salah membuat perbandingan, saya salah menyampaikan bahasa perbaikan dan perubahan. Kalau ini yang beliau maksud, benar ini kesalahan fatal saya dalam merangkai kalimat dan memperkaya konten training. Ke depan tidak boleh terulang. Desain training baik kontent, delivery, contoh-contoh, bahkan sampai rangkaian kalimat demi kalimat harus tertata lebih rapi dan dipikirkan lebih matang lagi agar tidak berbuah komplain.

Pagi ini saya jadi lebih plong, meskipun saya belum bisa terhubung dengan yang bersangkutan untuk secara langsung menyampaikan permohonan maaf. Pelajaran berharga bagi saya ternyata perlu orang lain untuk lebih obyektif mengoreksi kesalahan yang kita lakukan. Benar juga apa yang disampaikan oleh salah seorang ustadz yang saya simak nasihatnya pagi ini, “Kalau kita melakukan kesalahan di hadapan orang lain itu masih mending, karena ada orang yang mengkritik dan memberi nasihat. Yang fatal itu kalau kita melakukan kesalahan justru saat tidak dilihat oleh orang lain.”

Kita tak selamanya benar sahabat. Pasti ada salah dan khilaf yang pernah kita lakukan, sadar atau tidak. Tugas kita bukan bagaimana agar kita tidak pernah melakukan salah, itu mustahil. Apalagi membuat berbagai alasan agar kita tak disalahkan. Tugas kita menyadari kesalahan kita, mengakui dan menerimanya bahwa kita salah, lalu segeralah lakukan perbaikan. Kalau ada hak orang lain, ya segera hubungi yang bersangkutan, minta maaf. Dengan begitu hati kita jadi tenang, dan yang lebih utama kita bisa berbenar. Semoga ke depan kita menjadi pribadi yang terus lebih baik. Ternyata perubahan itu indah kan? Yuk Berubah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 9 =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top