Taubat Sambel

Apa yang kita harapkan ketika kita melakukan sebuah kesalahan kepada orang lain? Maaf kita diterima. Apa yang kita dambakan saat kita melakukan kemaksiyatan? Ampunan Allah Swt didapatkan. Salah, maksiyat, dosa dan khilaf adalah noda. Ampunan, maaf dan ridha adalah pembersihnya. Tapi tak mungkin noda itu tiba-tiba bersih kalau tidak ada proses membersihkannya. Itulah taubat, atau permohonan maaf.

Kesalahan tentu wajar, manusia kita semua pernah melakukannya. Tapi berulang dalam kesalahan yang sama tentu sudah tidak bisa diabaikan. Itu sudah jadi penyakit berbahaya.

Sering ketika kita menyadari telah berbuat kesalahan atau dosa lalu kita menyesal dan bertaubat. Memohon maaf kepada orang yang bersangkutan ketika itu menyangkut hubungan kita dengan sesama, atau memohon ampunan dan taubat kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Tapi ternyata, banyak juga diantara kita taubatnya hanya sebatas “taubat sambel”. Sering bertaubat, tapi sering juga melanggarnya.

Anda pasti tahu sambel bukan? Bagi Anda para pecinta kuliner, sambel menjadi salah satu menu utama makanan Anda. Sambel memang memiliki daya tarik tersendiri. Meskipun peda, makin lama makin dinikmati rasanya. Makin dinikmati makin terasa sensasinya dan tak ingin berhenti.

Nah, taubat kita pun sering seperti itu. Kita melakukan salah, lalu bertaubat. Memohon ampunan, menyesal dan tak ingin mengulanginya lagi. Tapi, satu hari kemudian, satu pekan kemudian, satu bulan kemudian bahkan setahun kemudian, kesalahan serupa kita lakukan kembali. Lalu kita pun bertaubat lagi. Tapi entah kenapa, beberapa waktu kemudian, kesalahan yang salam kita lakukan lagi. Terus begitu dari waktu ke waktu. Seakan taubat ya taubat. Maksiyat ya jalan lagi.

Jika kita pernah mengalami hal seperti itu, berarti taubat yang kita lakukan masih taubat sambel. Pedasnya di awal, lalu kita coba dan lakukan lagi. Nyeselnya di awal, lalu beriring waktu, kita lakukan lagi.

Mari kita sejenak berpikir lebih dalam. Benarkah kita ini tak bisa melepaskan diri dari kesalahan yang kita lakukan itu? Benarkah kita berat dan tak bisa meninggalkan kebiasaan buruk itu? Benarkah kita tidak mungkin terpisah dari sikap tak baik itu? Tentu tidak. Semua pasti bisa kita ubah. Tinggal mau atau tidak kita memaksakan diri untuk meninggalkannya. Awalnya berat, iya. Tapi yakinlah lama kelamaan kita akan terbiasa juga.

Coba perhatikan kebiasaan kita. Anda tentu masih ingat kapan Anda membuat akun twitter. Masih ingatkah bagaimana perasaan Anda, pikiran Anda, kebiasaan menulis Anda saat itu yang harus membiasaan diri dengan 140 karakter? Padahal mungkin sebelumnya di Facebook kita bebas menulis panjang lebar. Saya juga merasakan hal yang sama. Ketika awal “bergaul” dengan twitter begitu tidak nyaman, kikuk dan tak bebas. Tapi, bagaimana dengan hari ini Anda berselayar di dunia twitter? Mudah bukan?

Begitulah perubahan. Taubat juga demikian. Paksakan mengubah sikap dan kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik yang baru. Terus paksakan dan biasakan. Lambat laun kita akan merasakan kebiasaan baru dan akan berat kembali ke kebiasaan lama yang buruk itu. Jangan sampai taubat kita hanya taubat sambel. Taubatlah yang sebenarnya. Taubat yang tak hanya meminta ampunan saat lakukan kesalahan tapi juga berusaha keras agar kesalahan tak terulang di lain waktu. Sehingga kita pun pantas mendapatkan ampunanNya. Allah Swt berpesan dalam firmanNya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus/murni.” (QS. at-Tahrim: 8)

Yuk berubah! Yuk bertaubat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + seventeen =

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top